
Teknik Panen dan Pascapanen Temulawak untuk Skala Perkebunan – Temulawak (Curcuma xanthorrhiza) merupakan salah satu tanaman herbal unggulan Indonesia yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Rimpangnya banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku jamu, suplemen kesehatan, industri farmasi, hingga kosmetik. Seiring meningkatnya minat terhadap produk herbal dan gaya hidup alami, budidaya temulawak dalam skala perkebunan semakin diminati oleh petani maupun pelaku agroindustri.
Namun, keberhasilan usaha temulawak tidak hanya ditentukan oleh teknik budidaya, tetapi juga oleh proses panen dan pascapanen yang tepat. Penanganan yang kurang optimal dapat menurunkan kualitas rimpang, mengurangi kadar zat aktif seperti kurkuminoid dan xanthorrhizol, serta berdampak pada harga jual. Oleh karena itu, penerapan teknik panen dan pascapanen yang baik menjadi kunci untuk menjaga mutu dan meningkatkan daya saing produk temulawak di pasar domestik maupun ekspor.
Pada skala perkebunan, proses ini harus direncanakan secara sistematis, efisien, dan mengikuti standar mutu tertentu. Dengan manajemen yang tepat, hasil panen tidak hanya melimpah, tetapi juga memiliki kualitas premium yang diminati industri.
Teknik Panen Temulawak yang Tepat dan Efisien
Waktu panen temulawak umumnya berkisar antara 8 hingga 12 bulan setelah tanam, tergantung pada kondisi lahan, varietas, dan tujuan penggunaan. Untuk kebutuhan industri herbal dan farmasi, panen biasanya dilakukan saat tanaman berumur sekitar 10–12 bulan, ketika kandungan senyawa aktif dalam rimpang mencapai titik optimal.
Ciri-ciri temulawak siap panen dapat dilihat dari kondisi daun yang mulai menguning dan mengering. Batang semu juga tampak layu, menandakan fase pertumbuhan vegetatif telah berakhir. Pada tahap ini, rimpang telah berkembang maksimal baik dari segi ukuran maupun kandungan zat aktif.
Pada skala perkebunan, panen sebaiknya dilakukan secara serempak dalam satu blok lahan agar memudahkan pengelolaan tenaga kerja dan distribusi hasil. Proses pencabutan rimpang harus dilakukan dengan hati-hati menggunakan alat seperti cangkul atau garpu tanah agar tidak merusak rimpang utama. Kerusakan fisik dapat menurunkan kualitas dan mempercepat pembusukan.
Setelah rimpang diangkat dari tanah, sisa tanah yang menempel dibersihkan secara manual. Daun dan batang dipotong sekitar 2–3 cm dari pangkal rimpang. Pemisahan antara rimpang induk dan rimpang cabang juga dilakukan sesuai kebutuhan pasar. Biasanya, rimpang induk memiliki ukuran lebih besar dan nilai jual lebih tinggi.
Waktu panen sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari untuk menghindari paparan sinar matahari yang terlalu terik. Suhu yang terlalu panas dapat mempercepat penguapan air dari rimpang dan menurunkan kesegaran. Setelah dipanen, rimpang harus segera dipindahkan ke tempat teduh untuk proses selanjutnya.
Manajemen panen yang baik juga mencakup pencatatan hasil produksi per hektare, kualitas rimpang, serta tingkat kerusakan. Data ini penting untuk evaluasi produktivitas dan perencanaan musim tanam berikutnya.
Penanganan Pascapanen untuk Menjaga Mutu
Tahapan pascapanen temulawak sangat menentukan kualitas akhir produk. Langkah pertama adalah pencucian rimpang menggunakan air bersih untuk menghilangkan sisa tanah dan kotoran. Pada skala perkebunan, pencucian dapat dilakukan menggunakan bak rendam atau mesin pencuci khusus agar lebih efisien.
Setelah dicuci, rimpang disortir berdasarkan ukuran, bentuk, dan kondisi fisik. Rimpang yang rusak, busuk, atau terserang hama harus dipisahkan agar tidak memengaruhi kualitas keseluruhan. Proses sortasi ini penting untuk menjaga standar mutu terutama jika ditujukan untuk industri farmasi atau ekspor.
Tahap berikutnya adalah pengeringan. Untuk temulawak yang akan dijual dalam bentuk simplisia (irisan kering), rimpang dipotong tipis dengan ketebalan seragam sekitar 3–5 mm. Irisan ini kemudian dikeringkan menggunakan sinar matahari atau oven pengering bersuhu 50–60°C. Pengeringan yang tepat akan menurunkan kadar air hingga sekitar 10%, sehingga mencegah pertumbuhan jamur dan memperpanjang masa simpan.
Pengeringan dengan oven lebih direkomendasikan untuk skala besar karena hasilnya lebih konsisten dan higienis. Selain itu, pengendalian suhu yang stabil membantu mempertahankan kandungan zat aktif dalam rimpang.
Setelah kering, temulawak disimpan dalam wadah tertutup yang bersih dan kering. Ruang penyimpanan harus memiliki sirkulasi udara baik dan kelembapan rendah untuk mencegah kontaminasi mikroba. Pengemasan dalam kantong kedap udara atau kemasan vakum dapat meningkatkan daya tahan produk.
Untuk pasar segar, rimpang yang tidak dikeringkan perlu disimpan dalam suhu sejuk sekitar 15–18°C agar tetap segar lebih lama. Penyimpanan yang terlalu lembap dapat memicu pembusukan, sedangkan suhu terlalu rendah dapat merusak tekstur rimpang.
Standar Mutu dan Peluang Pasar
Dalam skala perkebunan, penerapan standar mutu seperti Good Agricultural Practices (GAP) dan Good Handling Practices (GHP) sangat penting. Standar ini mencakup kebersihan lahan, penggunaan pupuk dan pestisida yang terkontrol, serta prosedur panen dan pascapanen yang higienis.
Industri farmasi dan jamu biasanya mensyaratkan kadar kurkuminoid dan xanthorrhizol tertentu sebagai indikator kualitas. Oleh karena itu, pengujian laboratorium terhadap sampel hasil panen dapat meningkatkan kepercayaan pembeli dan membuka peluang kontrak jangka panjang.
Permintaan temulawak tidak hanya datang dari pasar domestik, tetapi juga dari luar negeri. Produk dalam bentuk bubuk, ekstrak, maupun kapsul memiliki nilai tambah lebih tinggi dibandingkan rimpang segar. Dengan pengolahan pascapanen yang tepat, pelaku perkebunan dapat meningkatkan margin keuntungan.
Selain itu, tren gaya hidup sehat dan meningkatnya minat terhadap pengobatan herbal menjadi peluang besar bagi pengembangan temulawak. Jika kualitas terjaga dan pasokan stabil, komoditas ini dapat menjadi andalan dalam sektor agribisnis nasional.
Kolaborasi antara petani, koperasi, dan industri pengolahan juga berperan penting dalam menjaga rantai pasok. Dengan sistem kemitraan yang baik, harga dapat lebih stabil dan risiko kerugian akibat fluktuasi pasar dapat ditekan.
Kesimpulan
Teknik panen dan pascapanen temulawak dalam skala perkebunan memegang peranan krusial dalam menentukan kualitas dan nilai jual produk. Panen pada waktu yang tepat, penanganan hati-hati, serta proses sortasi dan pengeringan yang sesuai standar akan menjaga kandungan zat aktif tetap optimal.
Penerapan standar mutu dan manajemen penyimpanan yang baik mampu memperpanjang daya simpan serta meningkatkan daya saing di pasar nasional maupun internasional. Dengan pengelolaan yang profesional, temulawak bukan hanya tanaman herbal biasa, tetapi juga komoditas strategis bernilai ekonomi tinggi.
Melalui teknik yang tepat dan perencanaan matang, perkebunan temulawak dapat menjadi peluang usaha berkelanjutan yang menguntungkan sekaligus mendukung pengembangan industri herbal Indonesia.