Sejarah Perkebunan Kina di Indonesia dan Peran Kolonial Belanda – Indonesia dikenal sebagai negeri yang kaya akan hasil bumi, mulai dari rempah-rempah hingga tanaman berkhasiat obat. Salah satu tanaman penting yang pernah mengangkat nama Nusantara di kancah dunia adalah kina. Tanaman ini menghasilkan kulit pohon yang mengandung kinin, zat berkhasiat dalam mengobati penyakit malaria. Pada masa kolonial, perkebunan kina menjadi salah satu komoditas paling berharga, bahkan disebut sebagai “emas hijau” karena perannya yang sangat vital dalam bidang medis dan ekonomi.
Kisah kina di Indonesia bermula pada abad ke-19. Saat itu, Belanda yang tengah berkuasa melihat tingginya kebutuhan dunia akan obat malaria. Penyakit ini menjadi momok besar di wilayah tropis, terutama bagi bangsa Eropa yang tinggal atau berpergian ke koloni di Asia dan Afrika. Pada tahun 1852, pemerintah Hindia Belanda mulai mendatangkan bibit kina dari Peru dan Bolivia—wilayah asal tanaman ini—untuk ditanam di Pulau Jawa.
Ternyata, iklim pegunungan di Jawa sangat cocok untuk budidaya kina. Daerah seperti Lembang, Pangalengan, hingga kawasan sekitar Bogor menjadi pusat utama perkebunan kina. Keberhasilan ini membuat Belanda mendirikan perkebunan berskala besar, serta lembaga penelitian khusus untuk meningkatkan kualitas bibit. Hasilnya luar biasa: pada awal abad ke-20, Indonesia berhasil menjadi produsen utama kina dunia, bahkan menyuplai lebih dari 90% kebutuhan global.
Kesuksesan ini tidak hanya memperkaya Belanda, tetapi juga memberi dampak besar pada dunia medis. Berkat kina dari Hindia Belanda, malaria yang sebelumnya menjadi penyakit mematikan bisa ditangani dengan lebih efektif. Tidak heran, perkebunan kina kemudian dianggap sebagai salah satu warisan penting dalam sejarah kolonial dan medis global.
Dari Kejayaan Hingga Kemunduran: Nasib Kina Pasca-Kemerdekaan
Meskipun sempat berjaya selama puluhan tahun, perjalanan perkebunan kina di Indonesia tidak selamanya mulus. Setelah kemerdekaan, banyak perkebunan yang diambil alih oleh pemerintah Indonesia. Namun, berbagai faktor membuat kejayaan kina perlahan meredup.
Salah satu penyebab utama adalah munculnya obat-obatan sintetis yang lebih murah dan mudah diproduksi, seperti klorokuin, yang mulai populer pada pertengahan abad ke-20. Hal ini mengurangi ketergantungan dunia terhadap kinin alami. Selain itu, pengelolaan perkebunan yang sempat terbengkalai akibat transisi politik dan ekonomi membuat produktivitas menurun.
Meski demikian, kina tetap memiliki nilai penting di Indonesia. Beberapa perkebunan masih bertahan, dikelola oleh Perhutani dan lembaga riset terkait. Tanaman ini tetap ditanam di kawasan pegunungan Jawa Barat, meskipun skala produksinya tidak sebesar masa kolonial. Saat pandemi COVID-19, nama kina bahkan sempat kembali mencuat karena adanya riset terkait potensi kinin sebagai terapi tambahan.
Di sisi lain, perkebunan kina kini juga dilihat dari sisi sejarah dan pariwisata. Banyak perkebunan lama yang masih berdiri menjadi saksi bisu masa kolonial. Bangunan peninggalan Belanda, pabrik pengolahan, hingga hamparan pohon kina yang hijau kini sering dijadikan destinasi wisata sejarah dan edukasi. Pengunjung bisa melihat langsung bagaimana proses kulit kina diambil, diproses, hingga menjadi bahan baku obat.
Kisah kina juga mengingatkan kita akan ironi kolonialisme: di satu sisi, perkebunan ini membawa kemajuan besar dalam bidang medis; namun di sisi lain, rakyat pribumi kala itu banyak yang harus bekerja keras dengan upah rendah demi kejayaan bangsa penjajah.
Kesimpulan
Perkebunan kina di Indonesia adalah bukti nyata bagaimana kekayaan alam Nusantara berperan besar dalam sejarah dunia. Didatangkan oleh Belanda, tanaman ini berkembang pesat di tanah Jawa dan menjadikan Hindia Belanda sebagai produsen utama kinin global. Khasiatnya dalam melawan malaria menjadikan kina sebagai komoditas vital, bukan hanya bagi ekonomi kolonial, tetapi juga bagi kesehatan umat manusia.
Meski pamornya meredup akibat munculnya obat-obatan sintetis, jejak kina tetap penting. Perkebunan tua yang masih ada hingga kini bukan hanya simbol kejayaan masa lalu, tetapi juga warisan sejarah dan pengetahuan yang tak ternilai. Dari sisi medis, kina adalah pengingat bahwa tanaman obat bisa menjadi penyelamat jutaan nyawa. Dari sisi sejarah, perkebunan kina menunjukkan bagaimana politik kolonial, ekonomi, dan kesehatan dunia saling terhubung.
Menjelajah perkebunan kina berarti menyusuri kisah panjang tentang kolonialisme, inovasi medis, hingga upaya pelestarian warisan sejarah. Di balik dedaunan hijau dan kulit batang yang tampak sederhana, tersimpan cerita besar yang membentuk perjalanan bangsa dan dunia.